Sebagai Muslimah, Berhijab Adalah yang Terbaik

“Kapan kamu mau memakai jilbab?”
pertanyaan itu dilontarkan keluarga, mulai dari ibu hingga kakak ipar saya
beberapa tahun lalu.
“Kapan ya?” tanya saya dalam hati. “Sepertinya belum siap,” lanjut saya
menimpali. Tapi kapan saya siap? Apa harus menunggu nanti setelah menikah?
Sebagai perempuan usia 20-an, seperti perempuan kebanyakan, saya masih ingin
terlihat cantik di mata pria. Terutama saya bangga dengan rambut panjang lurus
yang saya miliki, yang selalu terlihat baik beserta poni yang rapi. Selain itu
saya senang menggunakan pakaian-pakaian yang menarik seperti
dress selutut,
atasan berlengan pendek
dan celana pendek di kesempatan santai.
Tapi tidak dengan
hotpants, meski belum memakai jilbab, saya tidak
mengumbar aurat berlebihan dengan mempertontonkan belahan dada ataupun selulit
di bagian paha.
Sampai pada Bulan Ramadhan 2012, saya yang waktu itu tinggal di Jogja,
mendatangi Masjid Kampus UGM untuk berbuka puasa bersama dan menunaikan shalat
tarawih. Di pelataran masjid, saya mengenakan celana panjang, kemeja lengan
panjang dan pashmina yang dipasangkan di kepala ala kadarnya. Sementara di
sekitar, saya melihat perempuan-perempuan berjilbab rapi dan sempurna (meski
tak semuanya berpenampilan serupa).
Rasanya kok malu sekali ya, pikir saya dalam hati. Memang pakaian saya kala
itu terbilang baik-baik saja dan sopan. Tapi… melihat perempuan-perempuan itu
sepertinya nyaman sekali menggunakan jilbab dan berhijab, tidak memperlihatkan
lengan dan rambut mereka.
Keesokan harinya saya datang kembali ke masjid tersebut, dengan pashmina
terpasang rapi seperti menggunakan jilbab. Ah.. ternyata nyaman sekali. Saya
menunaikan shalat dengan lebih tenang dan terasa sempurna daripada hari sebelumnya.
Meskipun, keesokan harinya, saya melepasnya kembali. Artinya, saya hanya
mengenakan jilbab ketika sore hari dalam menunaikan ibadah shalat maghrib dan
tarawih.
Siang itupun saya berpenampilan seperti siang-siang sebelumnya, tanpa
jilbab. Saya pun mengajak teman dekat saya untuk mengantarkan saya ke sebuah
toko pakaian muslimah.
“Saya terpikir untuk berhijab,”
“Wah bagus sekali. Kapan mau mulai berhijab?” tanyanya.
“Belum tahu. Makanya saya mengajak kamu untuk membeli jilbab dan
perlengkapan lain yang dibutuhkan,” ucap saya sambil melihat-lihat ke sekitar.
Ternyata banyak sekali macamnya, dan cantik-cantik modelnya.
Di toko tersebut saya mencoba berbagai model jilbab. Dan setelah selesai
mencoba, saya melihat kembali diri saya di cermin. Tanpa jilbab. Rambut panjang
saya diikat kuncir kuda, dan lain dari biasanya, saya mengikat pula poni saya.
Aneh sekali. “Jelek sekali, tidak pantas,” pikir saya.
Akhirnya, keesokan harinya, saya memakai jilbab yang saya beli di hari
sebelumnya. Kali ini, saya menggunakannya sepanjang hari. Siang itu, saya dan
teman dekat saya bermaksud pergi ke toko buku. Ketika ia menjemput saya, ia pun
bertanya, “Tumben pakai jilbab siang-siang,” tanyanya sembari bergurau. “Pingin
aja,” jawab saya singkat. Di waktu berbuka puasa dan salat tarawih bersama pun
saya kembali mengenakan jilbab lengkap dan rapi.
Pada 3 Agustus 2012, adalah kepulangan saya kembali ke rumah untuk
meninggalkan Jogja sepenuhnya. Dan hari itupun saya putuskan sebagai hari
pertama saya menggunakan jilbab seterusnya, dan untuk menutup aurat saya
sepenuhnya.
Di hari-hari berikutnya, terutama setelah saya kembali memutuskan untuk
bekerja di Jakarta,
saya mengalami banyak hal yang membuat saya sangat bersyukur dengan keputusan
untuk berhijab. Seperti diketahui, di Jakarta ini kalau perempuan berjalan
sendiri melewati sekelompok laki-laki, kadang-kadang mereka suka “iseng”
menggoda, “Mau kemana neng?”, “Abang anter yuk!” atau digoda dengan siulan.
Tapi sejak berhijab, alhamdulillah hal seperti itu tidak pernah terjadi lagi.
Saya merasa lebih aman. Begitu juga setiap kali saya menggunakan angkutan umum.
Rasanya lebih nyaman dan aman dengan berpakaian tertutup seperti ini.
Awalnya, saya takut kalau dengan berhijab saya akan terlihat kurang menarik
secara penampilan. Tapi lagi-lagi saya bersyukur, banyak perempuan-perempuan
inspiratif dengan gaya
berhijab yang mengikuti tren namun tetap sesuai syariah. Saya pun belajar
sedikit demi sedikit untuk memadu-padankan pakaian dengan jilbab yang saya
pakai.
Dua di antara perempuan yang menginspirasi saya dalam memperhatikan
penampilan berjilbab saya adalah Dian Pelangi dan Siti Juwariyah. Dian Pelangi,
seperti diketahui adalah seorang perancang busana muslimah muda berbakat yang
sudah sangat terkenal. Model pakaian dan jilbab yang dirancangnya pun tidak
kalah
up to date, terlihat sangat modis dan tetap sesuai ketentuan
Islam.

Dian
Pelangi – pic by fashionwindows.net
Yang kedua, perempuan muda yang juga menginspirasi banyak perempuan
(hijabbers) lainnya adalah Siti Juwariyah,
founder kaffah yang
terkenal itu. Pemilik portal
saturday-market.blogspot.com inipun
selalu menghadirkan model-model kaffah terbarunya. Selain itu ia pun
memiliki
offline store di kawasan FX Sudirman.

siti
juwariah – founder of kaffah
Keduanya berusia lebih muda dari saya, tapi mereka berhasil membangun apa
yang mereka percaya sebagai
passion mereka berdasarkan
keyakinannya dalam berhijab. Dan yang terpenting lagi, mereka berhasil
menginspirasi banyak perempuan-perempuan untuk tidak malu atau
underestimate karena
berjilbab.
Bagi saya sendiri, saya yakin berhijab adalah yang terbaik. Selain karena
merupakan perintah Allah, juga karena saya merasa jauh lebih baik dalam
bersikap, beribadah, dan membangun pola pikir yang segala sesuatunya karena
Allah. Memang masih banyak hal yang saya pelajari lebih dalam, terutama tentang
akidah Islam itu sendiri, tidak lain alasannya untuk mengubah diri jadi lebih
baik lagi. Beberapa teman dan saudara juga semakin meyakinkan saya dengan
keputusan saya ini. Mereka bilang, penampilan saya lebih baik tertutup seperti
ini. Lebih anggun, katanya. Alhamdulillah, semoga saya bisa terus
istiqomah…amin.
Nenden Rachmawati.
Kunjungi Juga :
www.fashioninspiration.net
www.tifanianglila.com
www.vemale.com