Wednesday, 29 May 2013

Belgia Mencabut Larangan Berjilbab



Akhirnya Belgia Mencabut Larangan Penggunaan Jilbab di Area Publik

Redaksi – Rabu, 19 Rajab 1434 H / 29 Mei 2013 19:45 WIB

muslimah belgia

Akhirnya Belgia mencabut larangan pemakaian Jilbab yang telah berlaku sejak enam tahun yang lalu , yang memungkinkan pegawai negeri untuk mengenakan pakaian keagamaan, membuat komunitas Muslim bernafas lega.
“Ini adalah titik balik bersejarah bagi minoritas etnis dan budaya (Muslim),” kata Naima Charkaoui, direktur Forum Minoritas, kepada Reuters pada Selasa, 28 Mei.
Kota Ghent,  kota terbesar ketiga di Belgia , telah melarang pemakaian jilbab pada tahun 2007 setelah partai sayap kanan mendominasi dewan kota.
Larangan itu telah mencegah perempuan Muslim berjilbab untuk berada di pelayanan publik dan di kantor balai kota.
Sebuah larangan jilbab ditempat umum juga diperkenalkan pada tahun 2007 di kota kedua terbesar , Antwerpen Belgia.
Tapi larangan itu telah mendorong tuntutan dari warga Muslim  untuk menghapus larangan untuk memakai apa yang mereka inginkan.
Lebih dari 10.000 penduduk Muslim , atau sekitar lima kali dari jumlah minimal yang dibutuhkan untuk menyerukan petisi, untuk meminta pencabutan larangan jilbab.
Aksi warga ini diselenggarakan oleh Forum kelompok Minoritas.
Petisi ini disampaikan ke dewan kota, dan masalah ini diperdebatkan sengit selama empat jam sampai senin tengah malam.
Setelah perdebatan panjang, 29 dari 51 anggota dewan kota memutuskan untuk membatalkan larangan mengenakan simbol-simbol agama atau politik untuk pegawai publik.
Pelarangan Jilbab di Eropa dimulai oleh Prancis , Negara itu melarang pemakaian jilbab di tempat umum pada tahun 2004.
Beberapa negara Eropa telah mengikuti kebijakan Perancis, di tengah perdebatan yang mencuat di negara-negara lain tentang busana  muslim khususnya jilbab. (OI.Net/Dz)

Wednesday, 15 May 2013

Model Muslimah Life Style Versus ‘Ketelanjangan’ Life Style

Redaksi – Selasa, 26 Jumadil Akhir 1434 H / 7 Mei 2013 18:43 WIB
Islamisches Modemagazin Ala

Kini semarak Majalah muslimah di Turki untuk membantu wanita Muslim mengikuti gaya fashion terbaru sekaligus menjaga ajaran Islam mereka semakin bersinar.
“Cosmopolitan, Elle, Vogue, Marie Claire, itu semua berbicara tentang seks dan bagaimana caranya wanita bertelanjang,” kata Ibrahim Burak Birer, 31 tahun , ia  memulai penerbitan majalah fashion Muslimah tersebut , berbicara kepada  majalah Daily Mail.
Ia kecewa dengan banyaknya gambar bugil di majalah fashion yang beredar di negeri muslim, Birer memutuskan untuk membuat sebuah majalah tandingan dan siap bertarung dengan konsep sekuler yang menghubungkan model  fashion dengan ‘ketelanjangan’.
Dengan temannya, Mehmet Volkan Atay, 32 tahun, mereka  menciptakan majalah Muslimah ‘Ala’ , sebuah majalah  fashion Muslimah. Nama majalah, yang berasal dari era kekhalifahan Ottoman, yang berarti “yang paling indah  dari yang indah.”
Majalah mode ini digambarkan oleh majalah Jerman Radikal kanan sebagai “Vogue yang Berjilbab”.
Hijab,  pakaian muslimah wajib dalam Islam, selalu menjadi isu yang sangat krusial di Turki modern, di tengah tekanan oposisi elit sekuler, termasuk jenderal, hakim dan rektor universitas.
Jilbab masih dilarang di gedung-gedung publik, universitas, sekolah dan gedung-gedung pemerintah di Turki setelah kudeta militer tahun 1980.
Pernah pada tahun 2007, Emine Erdogan, istri Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, telah dilarang memasuki sebuah rumah sakit militer karena ia  menolak untuk melepas jilbabnya.
Ahamdulillah pada bulan September 2010, Dewan Pendidikan Tinggi memerintahkan Universitas Istanbul, salah satu universitas terbesar, untuk mengakhiri larangan jilbab. Aturan baru ini merembet ke hampir semua universitas di Turki.
Untuk Birer, majalah ini membantu wanita Muslim mengambil pakaian yang syar’I dan modis sambil meningkatkan iman mereka.
“Kami tidak memiliki pengalaman dengan majalah sebelum itu. Kita mencoba saja memasarkan konsep ini, “kata Atay kepada  SpiegelOnline.
Dengan baru hanya 6 ediisi,  majalah ini telah begitu sukses dan sirkulasi oplah meningkat beberapa kali.
Saat ini, kami memiliki sirkulasi 30.000 eksemplar  , dan sekitar 5.000 eksemplar dikirim ke luar negeri.
“Bila ada keyakinan iman, secara otomatis akan ada gaya hidup Muslim,” jelas Atay.
Dalam suasana perubahan di Turki menuju Islami, maka pemakaian jilbab pun semakin banyak , majalah fashion untuk wanita berkerudung menjadi model yang digemari masyarakat Turki.
“Kami tidak percaya bahwa perempuan muslimah harus mengasingkan diri,” kata Atay. “Bahkan wanita bercadar pun memiliki hak untuk berbusana indah.” Tutupnya. (OI.net/Dz)


Saturday, 4 May 2013

Saya Yang Memakai Jilbab, Kok Jadi Masalah Buat Anda?

Saya Yang Memakai Jilbab, Kok Jadi Masalah Buat Anda?


Redaksi – Sabtu, 23 Jumadil Akhir 1434 H / 4 Mei 2013 12:53 WIB
1 1Oleh Aisha Aijaz
Saya seorang wanita, dan diriku bukan komoditas seksual, Aku seorang manusia seperti kamu juga. Tapi aku juga seorang yang berjilbab , dan ketahuilah jilbab adalah identitasku, itu  terkait dengan keyakinan saya.
Aku tidak berjilbab di usia muda,  aku berjilbab juga tidak atas perintah dari seorang ayah yang menekan. Saya memakai jilbab terdorong ketika saya  menjelajahi pesan Allah yang  telah saya baca sejak kecil, melalui pemahaman dan pengkajian dengan bantuan ulama ,sehingga  saya mengerti apa yang dimaksud dengan jilbab . Saya yakin dan senang memakainya. Karena saya tahu pentingnya memakai jilbab jelas terhubung ke keyakinan saya pada Allah .
“Saya percaya pada Allah dan firman-Nya, aku mencintai Nabi Muhammad dan bagi saya karakter Aishah dan Fatimah adalah model muslimah bagi saya.
Jilbab adalah bagian dari kepribadian saya ,  seperti kippah untuk Yahudi dan Kristen. Jilbab adalah pesan perdamaian yang yang saya pakai dengan bangga. Biarkan dunia tahu bahwa saya melakukan yang terbaik untuk menjaga kesucian saya dan mentaati Tuhanku. Ini adalah refleksi bahwa saya bukan budak dari industri kapitalistik perusahaan yang membungkuk pada eksploitasi wanita telanjang untuk menjual segala sesuatu dari rokok hingga mobil mewah.
Jilbab memberi saya kebebasan, kebebasan dari dinilai dari warna kulit dan detail bentuk tubuh. Saya bebas dari belenggu beberapa orang yang biasa mengevaluasi wanita sesuai dengan panjang  pendek roknya , dari kejenjangan leher nya, kecerdasan dan karakter karakter yang tak perlu dinilai orang lain
Jilbab adalah bagian dari kepribadian saya , lalu kenapa Kristen dan Yahudi takut dengan ‘Jilbab’?
Dengan hanya sepotong kain di kepala saya, saya merasa diberdayakan sebagai seorang wanita. Tapi bagian dari masyarakat saya tampaknya memiliki masalah dengan itu. Beberapa orang berpaham liberal menyebut jilbab sebagai  alas serbet “meja makan “. Dan saya bertanya-tanya kenapa  dunia takut hanya dengan “Jilbab” , aku bertanya-tanya?
1 1Apa pembunuh ukhti Marwah Al Sherbini takut akan ‘Jilbab’ ?  Marwah  saat itu berusia 32 tahun, ia seorang apoteker, dan sedang hamil  tiga bulan, ia seorang isteri yang penuh kasih dan seorang ibu dari anaknya yang berusia dua tahun, apakah ia menjadi ancaman bagi dunia? Oh, kenapa anda sebut ia sebagai pelacur, teroris dan layak ditusuk 18 kali hingga tewas di depan umum di pengadilan Jerman ?
Apakah ‘Jilbab’ menjadi  ancaman terbesar dalam masyarakat Eropa, seperti Perancis dan Negara lainnya yang melarangnya? Pikirkan!
Cobalah anda  melihat, beberapa wanita yang sangat sukses di Barat yang beralih ke Islam dan memilih untuk menutupi tubuh mereka dengan jilbab, mereka semua memiliki kerendahan hati dan telah menemukan kedamaian.
1 1Saya mengutip Yvonne Ridley, seorang jurnalis wanita yang memeluk Islam tahun yang lalu:
‘Baju saya akan memberitahu Anda bahwa saya seorang Muslimah dan saya berharap akan diperlakukan dengan hormat, seperti dihormatinya seorang bankir Wall Street yang akan mengatakan bahwa setelan jasnya mendefinisikan dirinya sebagai seorang eksekutif kelas atas. ”
Berpikirlah  secara rasional dan putuskan! Mengapa saya yang pakai jilbab, kok jadi masalah buat anda? (Bahasa sininya, ‘Kenapa gue yang make Jilbab, kok masalah buat elo? )

Friday, 3 May 2013

Ironi, Perempuan dari Negara Muslim Tidak Mau Dicitrakan Berhijab



Ironi, Perempuan dari Negara Muslim Tidak Mau Dicitrakan Berhijab

 

JAKARTA (voa-islam.com) – Kabarnya, peserta Miss World sudah merambah negara-negara muslim, sebut saja seperti Mesir, Turki, bahkan Afghanistan. Apa sebenarnya target yang dicapai dari peserta muslimah dari negara Islam untuk ambil bagian dalam ajang Miss World?
Ketua Muslimah Participant, Eka Shanty, melihat dalam tiga tahun terakhir ini, memang ada keinginan wanita muslimah untuk diakui di dunia internasional. Hal itu dibuktikan dari banyak email yang ia terima dari Timur Tengah. Dalam emailnya, muslimah asal Timur Tengah itu menyampaikan keluhannya tentang sesuatu dibalik burka dan hijab mereka, dimana mereka ingin dihargai.
Yang membuat Eka terkejut adalah ketika ia bertemu dubes dari negara Islam lima besar di dunia, yang mengatakan, “Maaf, meski kami negara muslim, kami tidak ingin wanita kami dicitrakan berhijab, kami ingin seperti ajang Miss World. Ckckckck,” kata Eka yang juga duta Aksi Cepat Tanggap (ACT).
Dubes itu juga menolak ajang “World Muslimah” sebagai bentuk perlawanan dari kontes wanita yang kerap memamerkan aurat di depan public. Dubes itu bahkan menolak, jika persyaratan mengikuti world muslimah harus berhijab.
“Lucunya, kenapa negara Islam saat ini seperti tidak ingin kelihatan Islami. Ternyata, mereke takut tidak mendapat arus investasi, bahkan banyak wanita berhijab takut kesulitan mengembangkan ekonomi di negara mereka,” ujar Eka Shanty.
Ketika ditanya, begitukah realitanya, perempuan berhijab takut tidak mendapat akses pekerjaan? “Oh tidak benar itu. Dalam riset yang saya lakukan, justru dalam tiga tahun terakhir, semakin banyak perempuan berhijab, semakin banyak peluangnya, dan aksesnya pun makin luas.
Menurut Eka, kita harus memahami kesetaraan gender dalam pandangan Islam, tidak seperti kacamata Barat. Jika acuannya ke Barat, jangan-jangan semua wanita ingin bekerja di luar rumah, lalu siapa yang akan membentuk generasi madrasatul ula, kalau bukan seorang ibu. Ini yang harus kita kawal. [desastian]